Postingan

kh. hasan mimbar

KH. RADEN AGUNG HASAN MIMBAR Mbah Hasan Mimbar. Dialah sosok ulama penyebar agama Islam pertama yang langsung memperoleh mandat dari Pakubuwono II melalui Bupati pertama Tulungagung Eyang Kiai Ngabei Mangundirono. Makam Mbah Hasan Mimbar berada di Desa Majan, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung. “Hasan Mimbar sejak 1727 dapat perintah dari Mataram, yaitu Pakubowono II, untuk menyampaikan ajaran Islam di Tulungagung atau di Ngrowo pada waktu itu. Perintahnya adalah untuk menikahkan, menjalankan hukum waris dan sebagainya,“ tutur Muhammad Ali Sodiq selaku penerus dan anak keturunan Mbah Hasan Mimbar. Bupati Tulungagung pertama Eyang Kiai Ngabei Mangundirono memanggil dimas atau kakak terhadap Mbah Hasan Mimbar. Jadi, secara nasab keluarga, bupati pertama Tulungagung itu adik Mbah Hasan Mimbar. Lebih tua Mbah Hasan Mimbar.“Hasan Mimbar mempunyai tanah perdikan pemberian Mataram, yaitu Majan, sekitar 95 hektare. Akhirnya, Mbah Hasan Mimbar wafat, kemudian pimpinan diteruskan ol...
JEJAK SYEKH SUBAKIR di BLITAR Warga Blitar tentunya sudah tidak asing ketika mendengar nama “Syekh Subakir”, Secara turun temurun masyarakat Jawa percaya bahwa Syekh Subakir merupakan penyiar islam pertama di pulau Jawa. Di Blitar, tepatnya di derah Penataran masyarakat mempercayai sebuah makam yang berada di dekat Candi Penataran itu makam seorang ulama Syekh Subakir. Makam itu pula yang menjadi cikal bakal berdirinya Masjid Makam Syekh Subakir di kelurahan setempat. Subikhan (47) tidak bisa menjelaskan mulai kapan sebuah makam yang dipercayai sebagai makam Syekh Subakir itu mulai ada di kampungnya. Sejak ia dilahirkan pada 1971 silam makam itu sudah ada di kampungnya. Bahkan, makam itu sudah berdiri zaman kakek buyutnya. “Kalau mulai tahun kapan berdirinya, saya tidak tahu. Sejak saya lahir makam itu sudah ada. Cerita turun temurun dari orang-orang tua di sini, makam itu dipercayai makam Syekh Subakir. Tapi sebagian lagi menyebutnya petilasan karena di tempat lain juga ada makam Sy...

masuknya Islam di Banyuwangi

SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI BANYUWANGI Ada hal yang perlu kita ketahui bahwa kehidupan kita sebagai bangsa Indonesia dilatarbelakangi dengan sejarah yang erat kaitannya denan pluralisme, begitu pula dengan proses masuknya agama islam di Indonesia. Sejumlah teori menyatakan bahwa yang pertama kali masuk islam adalah penguasa. Kalau lebih diperhatikan lagi dapat diperhatikan bahwa islam disebarkan secara top down, kurang membumi pada akar rumput. Pada abad ke-12 dan ke-13 islam dibawa oleh pedagang Gujarat dan Arab, lalu, islamisasi mengalami akselerasi antara abad ke-15 dan abad ke-16. Namun dalam pembahasan sejarah nusantara ternyata islam disebarkan dengan lebih elegan dan kultural pada abad ke-7 oleh orang-orang Tionghoa atau berkebangsaan Cina, jauh sebelum kedatangan orang-orang Gujurat dan Arab. Para pembawa islam pertama kali adalah orang Cina yang memiliki karakteristik sufi, mereka bergabung dengan rakyat kecil, berkelompok dagang dan mengerjakan kerajinan kreatif. Karakt...

Sejarah Peradaban Islam di Gresik

Sejarah Peradaban Islam di Gresik Sebelum kemunduran Kerajaan Majapahit terjadi telah terlebih dahulu ada hubungan perdagangan yang terjadi di Pesisir Utara Pulau Jawa dengan pedagang Islam terutama dari kerajaan Samudra Pasai. Uraian berikut memberikan bukti bahwa pada masa kekuasaan Majapahit telah ada hubungan dagang dengan pedagang-pedagang Muslim yang memungkinkan adanya Islamisasi di Utara Pulau Jawa pada saat Majapahit masi berkuasa, seperti yang pernah terjadi sebelumnya yaitu Islamisasi yang terjadi di Utara Pulau Sumatra pada masa kekuasaan Sriwijaya. Kemungkinan atas analisis tersebut masih belum cukup dapat menguatkan akan pendapat bahwa Islamisasi yang terjadi di Pulau Jawa yaitu di awali pada masa-masa Majapahit Masih Berkuasa, sebab saat Majapahit masih berkuasa Hindu masih kental melekat di masyrakat Jawa kususnya Jawa Timur, adapun kemungkinanan sangat kecil. Bukti peninggalan bahwa terjadi kontak dengan Islam yaitu batu Nisan Kubur Fatimah binti Maimun di ler...

Kisah Waliyulloh, KH. Zainuddin Mojosari, Nganjuk

Kisah Waliyulloh, KH. Zainuddin Mojosari, Nganjuk KH. Zainuddin merupakan pengasuh Pondok Pesantren Mojosari, Loceret, Nganjuk, Jawa Timur generasi ke 7. Pondok Pesantren Mojosari didirikan pada tahun 1720 M oleh Kyai Ali Imron, Bendungan. Ketika menjadi santri di pesantren Langitan, Tuban, Kiai Zainuddin yang asal Padangan, Bojonegoro diambil menantu oleh pengasuh pondok tersebut, dan diminta untuk meneruskan kepemimpinan Pondok Mojosari. Di bawah kepemimpinannya, Ponpes Mojosari mencapai kejayaannya. Kyai Zainuddin adalah sosok Kyai yang istiqomah, diakui kewaliannya dan sangat peduli dengan lingkungan, ini dibuktikan dengan banyaknya hewan peliharaan dirumahnya, seperti sapi, kuda, kambing, bebek, ayam dan lainnya. Seakan-akan rumahnya mirip kebun binatang. Meski di kenal sebagai Waliyullah, kegiatan KH Zainuddin sehari-hari tak jauh berbeda dengan petani pada umumnya, tapi ia terkenal sangat disiplin dan istiqamah. Jam 22.00 setelah selesai mengajar dimalam hari, sang kiai i...

Pondok Pesantren Nurul Ulum Blitar

Nama: Annisa naila muna Absen: 29 NIM    :12305183064 “Pondok Pesantren Nurul Ulum Blitar” Pondok pesantren Nurul Ulum didirikan sejak tahun 1994, tepatnya pada tanggal 20 Juni 1994 dibawah pengelolaan Lembaga Pendidikan Maarif NU Cabang Kota Blitar. Berada di jalan yang sangat strategis penghubung Sampang-Pamekasan, tepatnya di Jalan Agus Salim No. 3 Kelurahan Banyuanyar, Kecamatan Sampang, Pondok Pesantren Darul Ulum konon sudah ada sejak masa sebelum kemerdekaan Republik Indonesia. Kiai Haji Su’adi selaku Ketua Yayasan sekaligus putra dari sang pengasuh pondok pesantren, menuturkan bahwasanya ponpes tersebut telah ada sejak 1940-an. Sebelum menjadi pondok, diceritakan Kiai Haji Madani sang pendiri pertama kali ‘morok’ di sebuah langgar kecil miliknya yang sekarang sudah menjadi mushalla besar. Langgar kecil itu menjadi cikal-bakal berdirinya pondok pesantren ini. Sepeninggal Kiai Madani pada tahun 1942, pondok pesantren yang merupakan salah satu pondok tertua di ka...